Newest Post
Sejak kecil tania tinggal dengan ayahnya. Ibunya telah meninggal saat melahirkannya. Ayah tania membesarkan tania layaknya seorang ibu. Meskipun ada keterbatasan fisik, namun dia mengasuh tania dengan penuh kasih sayang. Martin ayah tania,dia bekerja sebagai pengangkut sayuran di pasar. Disaat dia bekerja di pagi hari, martin selalu menitipkan anak satu-satunya yang masih sepuluh bulan itu kepada kaka perempuannya. Sorehari nya,dia menghabiskan waktunya untuk tina.bermain dan bercanda ria di rumah yang sederhana itu yang terbuat dari kayu yang sudah usang kehitam-hitaman. Saat tina sudah tidur,martin selalu keluar menatap langit malam sambil merenung di atas tempat duduk kayu dan sambil berkata dalam hatinya"Ya tuhan apakah aku pantas di sebut ayah oleh anak ku,jika dia sudah besar nanti dan mengetahui ayahnya seperti ini,lalu ia tidak menerima ku sebagai ayahnya. Karna aku seorang tuna wicara*gagu* yang tidak bsa mengajarinya apapun" sambil menggerakan tangannya.
Tak lama tania bangun dan menangis,martinpun bangkit dari duduknya ia segera tidur di sampingnya dan mengelus kepalanya perlahan-lahan dengan halus,tangisan itu mulai hilang.tania tidur dengan nyenyak di pelukan ayahnya.
Enam tahun sudah martin membesarkan tania tanpa seorang istri,martin hanya memikirkan kehidupan tania nati di masa depan ia terus menabung dari hasil kerja keras untuk tania,bahkan martin bisa menyekolahkan tania dengan kerja kerasnya,setiap pagi tania selalu di antar oleh ayahnya sampai depan gerbang.
pagi hari ini tania semangat untuk berangkat ke sekolah,tani berbeda dengan anak yang lain dia tidajk mintan apapun dari ayahnya,bahkan apa yang ayahnya berikan dia terima dengan senang,tapi tania dengan teman-teman nya yang setiap sekolah selalu merangkul tasnya,tania hanya membawa kantong keresek yang di dalam nya hanya satu buku. martin yang sedang mengecek ban sepedanya tania tiba-tiba mengagetkan ayahnya.
"Ayah..nanti mau nunggu tania sekolah kan.melihatku belajar, tania sudah bisa baca loh yah,, " kata tania memegang bahu ayahnya dari belakang yang sedang mengecek sepeda,saat ini tania sudah masuk sekolah dasar.
"Ayah ingin sekali melihat mu belajar na. Tapi ayah harus. Berkerja..maafkan ayah na" martin berbicara dengan bahasa isyarat pada tania sambil menggerakan tangannya dan mengelus rambut tania.tania yang masih kecil ia terlihat bingung ayahnya berbicara apa,tania menggarukan kepalanya.
"ayah aku tidak mengerti" kata tania
martinpun langsung berdiri, mengambil pulpen dan selembar kertas dan menuliskan apa yang telah ia ucapkan tadi,lalu martin memberikannya ke tania,dia besyukur tania sudah bisa membaca tulisannya, tania membacanya dengan mengeja dan masih terbata-bata, namun tania mengerti maksud tulisan itu.
"ayah tidak bisa terus,,teman-teman yang lain selalu di tunggui ibu dan ayahnya,aku hanya ingin ayah melihat ku belajar di kelas" tania mengembungkan pipinya
martin menuliskan lagi kata-katanya di kertas lembar,
"a..yaaaa..hh jaann..jiii meee..lii.hat..mu.bee,lla,,jaar" tania membacanya sambil berfikir. "janji ya yah,," lanjut tania
"eeeennn" martin mengangguk. tania tesenyum lebar sambil mengambil tas.
di pagihari terlihat fajar segera menghapus awan malam,sekitar jam lima martin mulai mengayuh sepedanya di pagi yang dingin ia membiarkan didrinya tidak memakai baju tebal ia mementingkan tania, martin mengayauh sepedanya dengan cepat,desingan angin terdengar di telinga bulu roma martin mulai berdiri karna kedinginan, sesekali motor melewatinya membawa anak-anaknya pergi ke sekolah, martin pun mulai berhenti di jalan yang menanjak tinggi karna sepedanya tidak kuat menanjak, tania yang sudah hafal sekali tanjakan itu mulai turun dari sepeda,mereka berjalan menajak membawa sepedanya,tania berlalri-lari menanjak sampai atas melambaikan tangan dan menggoyangkan tangannya ke arah ayahnya, martin tersenyum melihat tingkahnya.
martin mulaimengayuh sepedanya lagi sampai telihat gerbang sekilah di depannya, satujam akhirnya mereka sampai sekolah,tania pun turun dan pamit di depan gerbang sekolahnya,martin mengecup pipinya,tani tertawa dan masuk dengan semangat.
saat tania masuk kedalam kelas ,tania yang baru masuk tiba-tiba di timpuki kertas oleh teman-teman,tania berlari ke tempat duduknya namun siska menolak duduk disampingnya
"kamu dudukdi belakang saja tania"dia menunjuk ke belakang
"tapikan sis aku ingin duduk dengan mu,," balas tania
"sekarang aku menolak duduk dengan mu"
"kalau besok boleh" tanya tania
" engga bolehh,," jawab siska cuek
" besok,,besoknya lagi boleh" tanya tania
"engga boleh taniaaa!! sudah sana" usir sisika
tania terpaksa duduk paling belakang,entah kenapa sikap siska jadi dingin di pagi hari ini, tani duduk di belakang,bingung dan bertanya-tanya, "apa salah ku pada sisika dan teman-teman yang lain? hari ini benar-benar aneh" gumamnya.
tania membuka bukunya dari dalam tas dan membacanya salah seorang temannya mendekatinya.
"hei,,,anak pintar,tapi tidak di senangi" fino mengagetkan tania
"ya ampun fin kamu mengagetkan ku,," kata tania, fino tertawa puas
"kamu sadar ga tina,, mereka semua bersikap aneh dengan mu, bakan teman sebangku mu juga" fino mulai duduk di samping tania
"ya,, aku hanya heran dengan sisika, dia dingin sekali pada ku hari ini" tania melihat ke tempat duduk tania
"nati kammu juga tau tania kenapa mereka bersikap aneh pada mu,mulai sekarang boleh aku duduk di sini tania?" tanya fino
"silahkan saja fin,kau bebas duduk di mana pun,tetapi jangan mengganggu saat belajar"
fino tesenyum lebar dam mengangguk tanda setuju.
siska menoleh kebelakang melihat tania sedang belajar sambil menunjuk-nunjuk ke arah bukunya.
^_^ MASIH BERLANJUT