Newest Post
Archive for Agustus 2014
langkah kakimu yang tak bejajak suranya terus terdengar bu, di saat aku besujud pada-Nya aku selalu beseru nama mu bu,, aku hanya memohon jagalah ia dan teruskanlah ia hidup dalam hati ku ini. jasa mu bgitu banyak bu, begitu banyak sampai aku tidak bisa menyebutkannya, tapi apa! anak mu ini tidak memberikan apapun bahkan kata-kata cinta pun urung ku ucapkan saat ibu masih berdiri tegak. jasa apa yang ku berikan untuk mu bu, hadiah yang terkacil pun tidak, apa aku ini anak yang kejam yang tidak pernah membalas apapun kepada ibu. bu andai saja ibu bisa melihat ku tumbuh dewasa aku akan selalu ada di samping mu bu, melihat indahnya dunia ini bersama ku. aku akan menunjukan semua kepada mu bu, tapi ibu lebih memilih dunia-Nya yang jauh lebih indah dari dunia ini,bukan kah kau sering bercerita kepadaku saat aku masih kecil. bu dengarlah sampaikapan pun senyuman mu tak akan pernah pudar, di sini, di hati anak mu ini. aku tau ibu pasti melihat ku di sana, melihat ku tumbuh dewasa, jangan khwatir bu aku selalu memegang kata-kata mu selalu dan tak akan pernah ku hapus ini, karna itu adalah pesan satu-satunya yang ibu berkan pada ku. jangan khwatir bu mereka baik-baik saja, ayah, aku akan selalu menjaga titipan mu satu-satunya bu, aku berjanji akan membuatnya bahagia.
hujan mulai turun orang-orang berhamburan untuk mencari tempat berteduh, dari jendela kantorku, aku melihat pedagang asongan yang mencari tempat untuk berteduh, suara kelakson mobil mulai berisik, karna ada ada satu mobil yang mogok ditengah jalan, aku tersenyum kecil melihat dua orang yang rela di guyur hujan untuk membantu endorong mobil yang mogok,enak rasanya karna orang yang di dalam mobil tidak mersakan dingin nya dibasahi hujan malam, dari kecil hingga sekarang entah aku suka sekali jika hujan turun,karna banyak yang bisa ku fikirkan saat turun hujan, dan lagi suara tetesan hujan yang bergemerecik, suasana di luar yang lenggang dan tidak terlalu ramai, hanya banyak orang-orang yang sedang berteduh di pinggirjalan. di saat seperti ini aku sangat merindukan sosoknya dia adalah ibuku,yang selalu di sampingku. oia namaku anna tidak ada nama panjangnya entah apamaksudnya ibuku memberiku nama seperti itu, agarmudah di ingat katanya. aku masih ingat cerita semasa kecil ku hinggasekarang meskipun tidak banyak yang kulupa.
dulu saat aku berumur kira-kira enam tahun,perawakan ku sangat lah kumuh, rambutku yang setiap harinya tidak pernah di sisir, baju yang ku pnya pun hanya beberapa helai, di umurku yang cukup ini untuk sekolah,tetapi aku tidak bersekolah aku sangat ingin sekali bersekolah, aku iri di setiap pagi, aku selalu melihat anak-anak seumuran ku bersekola, saat di pagi hari aku hanya bisa keluar dan melihat mereka berjalan menuju sekolah dengan teman-temannya. terkadang aku selalu rewel meminta ibu ku ingin sekolah seperti mereka,tetapi ibu ku selau mempunyai jurus saat aku rewel meminta untuk sekolah, dengan mengelus kepala sambil berkata iya dengan senyumannya itu.di saat itu juga aku langsung loncat kegirangan berlari kesana kemari, sampai mencium pipi ibuku dan aku selalu iseng mengatakan hal itu ke dede " de,, kaka mau sekolah,ibu bilang kalau di sekolah itu sangat menyenangkan, nanti kalau kaka sudah sekolah kaka ajarin dede" kata ku , tapi dede hanya diam dan asikmeyentil-nyeti kelerengnya, memang terkadang aku selalu bermain dengan dede salahsatunya bermain kelereng, sekarang dia asik bermain sendiri karna aku membiarkan dia bermain sendiri.
aku, dede, ibu hanya tinggal bertiga, ibu ku bilang ayah ku meninggalkan ibuku saat aku masih bayi, aku yang sudah mengetri, aku kesal memiliki ayah yang seperti itu meningalkan ibu demi kepentingan sendiri, saat ini aku menganggap ayahku sedah meninggal, aku tidak ingin mengingatnya lagi bahkan wajahnyapun aku tidak mengetahuinya. tempat tingal kami bertiga hanyalah gubuk dipinggir semak-semak, yang hanya cukup untuk bertiga, terkadang aku takut saat turun hujan saja gubuk ini selalu kebocoran bahkan kalau disrtai angin kecang saja serasa menari-nari seoalah gubuk ini akan rubuh, aku sangat khawatir jika gubuk ini runtuh entah apa jadinya.
ibuku selalu memeluk kami berdua di saat hujan deras seperti ini, karna dede selalu ketakutan melihat gubuk kami yang bergoyang-goyang, memang gubuk ini dibuat oleh ibuku sendiri dengan mengumpulkan ranting-ranting, kayu bekas dan juga daun kelapa kering yang sudah jatuh kebawah di kebun sebelah jadilah gubuk yang aneh ini namun banyak kebahagian jika aku masih bersama ibuku. padahal ini sudah malam tapi aku dan dede tidak bisa tidur dalam keadaan seperti ini.
" bu ade takut" menarik-narik baju ibu
"ih,, cemenn kamu de, liat kaka nih,, ga takutkan" aku bergaya, meledek dede
"BLAAAARR" *suara petir*
aku sontak langsung memeluk ibuku,karna sura menggelegar itu sangat mengagetkan ku ditambah lagi kilauan-kialauan petir.
"ibu anna takut,,," aku berlindung di belakang ibuku
" haha,, cemen kamu ka ade aja ga takut" ade memeletiku, aku tidak membalas apapun
"hihi,,kamu ga malu an sama dede tuh,,sini sama ibu nanti ibu ceritakan dongeng, seru loh" ajak ibu
"yahh,, dongeng lagi,gambar aja bu dede suka gambar." sambil menggerakan tangannya seolah-olah memegang pensil,
"ah,,paling juga gambarnya itu-itu saja,,gunung,matahari,rumah, sawah,,apalagi ya...." aku berfikir
" burung!" sambar dede
"iya,,gambar mu jelek de,, coba kaka kasih tantangan dede bikin gambar kaya rumah kita,tapi lagi kena angin hujan, bisa ga? nanti kaka kasih. buku gambar baru!!" dedua angan ku ku angkat ke atas
" iya ka mau deh,,tapi janji ya,,ya" serius dede
" memang kamu uang dari mana ka?" tanya ibu
" dari ibulah" aku tertawa,, ibu kutertawa menekan hidungku
"yaudah,,nanti kalo ade bisa ibu beliin deh,,mau dongeng apa kambar nih" tanya ibu
"dongeng aja bu aku lagi malas gambar" balas dede
meskipun di tengah-tengah hujan yang lebat seperti ini ibuku selalu bisa membuat suasana mennjadi riang, takterasa satu jam setengah ibuku berdongeng, kali ini ibu berdongeng monyet yang serakah, aku ade menikmati sekali dongeng itu sampai hujan di luar kami cueki. dede mulai tertidur di samping ibuku, namun tidak dengan ku.
"anna kamu belum tidur,liat dede tidurnya pulas sekali,,mau ibu dongengi lagi" tanya ibu sambil tersenyum
"tidak bu,anna hanya memikirkan,,anna ingin mencari uang saja bu,biarin tidak sekolah, asal dede bisa sekolah" tatapan ku serius ke ibu
" anna,,sini mendekat" aku pun mendekat " besok ibu mau mendaftarkan mu sekolah,,"bisik ibu
"ibu benar!! tapi bu, sekolah itukan mahal"
" insya allah cukup an,,ibu sudah lama menabung hasil jual gorengan ibu,,liat baju mu sudah ibu belikan, tapi
sementara kamu memakai keresek pelastik dulu ya ibu belum bisa membelikannya" ibu ku mengambil baju sekolah.
aku tak percaya ibuku sudah menyiapkan jauh-jauh hari ternyata ucapan ibu waktu itu bukan lah bohong, kali ini aku tidak loncat kegirangan, aku langsung memeluk ibuku dan menciumnya.
aku masih menunggu hujan yang masih belum reda, bahkan bertambah deras, gemuruh-gemuruh hujan turun terdengar begitu keras tanda hujan sangatlah lebat. namun tidak mengurangi indahnya kelap-kelip lampu di kota ini. aku menghelakan nafas panjang sampai kaca ini berembun,aku mengusap dengan tangan ku, di luar jalanan sanangat langgang hanya ada beberapa mobil yang lewan dengan kecepatan tinggi. bakan sekarang banyak motor dipingiir jalan, tubuhku kali ini mulai menggigil karna cuaca semakin malam semakin dingin, meskipun aku didalam kator ku tetap saja dinginya membuat ku menggigil.di saat seperti ini aku rindu sekali pelukan ibu.
aku masih melihat-lihat suasana di luar,pedanggang asongan tadi mulai berlari-lari di panggil oleh banyak yang ingin membeli sesuatu, aku melihat wajah pedagang asongan itu terlihat senang sekali karna hujan ini ia tidak usah repot-repot ketengah jalan menawarkan jualannya.aku jadi ingat, ibuku selalu mengajak ku ber jualn gorengan di sekolah SD ku dulu, saat istirahat aku membantu ibu ku berjualan gorengan.
saat umurku sepuluh tahun ade ku tujuh tahun, aku senang, karna bukann hanya aku yang bersekolah tapi dede juga, saat dede belum sekolah dede selalu ku ajari membaca,menulis bahkan hal yang paliing dede sukai menggambar dia selalu minta di ajari itu, sementara ibuku tak usah repot-repot mengajari dede, terkadang aku kasihan melihat ibu ku, dia berjuang sendiri untuk sekolah kami bahkan sekarang bukan hanya menjual gorengan saja, ibuku sekarang selalu mengumpulkan botol-botol bekas yang bagi ibuku adalah emas yang berserakan di jlan raya, itu ia lakukan setiap sembahyang subuh, aku ingin selali membantunya, tapi ibu selalu melarang ku dia lebih senang jika kami belajar di rumah, kini tubuh ku bertambah tinggi dan terlihat imut itu ibu yang bilang, rambutku kini sudah tidak seperti orang yang belum mandi,perawakan ku dan dede tidak seperti yang dulu, sekarang kami tinggal di kontrakan yang kecil,karna gubuk yang ibu buat telah di gusur dede yang tidak tau apa-apa saat itu hanya menangis karna melihat ku menangis,seperti biasa ibuku sudah mengetahuinya bahwa rumah gubuk kami terancam di gusur tetepi ibuku masih mempunyai uang simpanan. ibuku pun masih menjual gorengannya, aku bersyukur kini gorengan ibuku, banyak yang pesan.
dan satu lagi yang membuatku terkejut aku mendapat besiswa ke malaisia, ketika itu aku enggan meninggali ibuku dan dede tapi ibu selalu menyemangatiku supaya mengambil beasiswa itu, ya aku niatkan itu untuk ibuku dan dede. aku kini berkomunikasi dengan dede katanya dia kalau kangen aku selalu ke warnet.
:" kaka,,enak ya disana,dede mau juga ka kesana" dede di chat
" hehe enak dong de,, makanya belajar yang benar supaya bisa ke sini, ibu kabarnya gimana de?" tanya ku di chat
"siap ka kirimin buku gambar lagi ya ka, aku suka yang buku gambar yang kaka kirimin waktu itu,"balasnya
"iya nanti kaka kirimin lagi,,kaka tanya kabar ibu de gimana?"
"ibu lagi sakit ka"
"eh,,kamu ya de kaenapa ibu di tinggal sendirian sii, pulang sana"
"hehe,,ini ibu kaka anna yang cantik,ibu lagi sama dede,liat dedemu menertawai mu tuh seneng banget"
"ibu bikin kaget saja _ _" "
"belajar yang benar ya ka di sana jangan mikirin ibu di sini, ibu baik-baik saja kan ada dede, jagoan ibu"
" iya,, anna rindu ibu sama dede"
" nati ibu kirim foto ibu sama dede yah,, biar rindumu hilang"
setengah jam aku chat dengan ibuku yang tadi kupikir itu dede,ibuku mengirimkan fotonya bersama dede dengan poseyang ceria sekali membuat rasa khawatir ku menghilang sementara. teman sekamar ku dita di melihat ku menangis, dia segera memberikan ku saputangannya,.
"kenapa kamu ann" tanya dita
" aku rindu ibuku dit, sudah setahun aku tidak melihatnya" aku mengelap air mataku
"sudahlah ann,,aku yakin ibumu baik-baik saja, do'akan saja ann"
" tapi,,"
"sudahlah ann,, besokmasih ada ulangan matematika,, apa kamu mau nilaimu hancur,kalau nilaimu hancur ibumu akan kecewa bukan"balas dita
dita terus menenangkanku supaya tidak terus khawatir seperti ini, aku selalu menuangkan isi hatiku ini kepada dita hanya dialah teman ku,terkadang aku iri padanya karna ia murid paling pintar di kelasku, aku di bawah dita, makanya kami selalu jadi bahan bincangan di kelas, dan lagi banyak sekali anak-anak laki mendekati dita minta di ajarkan ini dan itu tetapi dita selalu menolaknya entah dita memang seperti itu dia hanya terbuka dengan anak cewe salah satu nya aku, jika aku tidak mengerti tentang pelajaran aku selalu bertanya pada dita. di saat kami sedang dikamar dan bercerita macam-macam dengan dita,muncul biangkerok yang merusak suasana kami.
MASIH BERLANJUT ^_^

dulu saat aku berumur kira-kira enam tahun,perawakan ku sangat lah kumuh, rambutku yang setiap harinya tidak pernah di sisir, baju yang ku pnya pun hanya beberapa helai, di umurku yang cukup ini untuk sekolah,tetapi aku tidak bersekolah aku sangat ingin sekali bersekolah, aku iri di setiap pagi, aku selalu melihat anak-anak seumuran ku bersekola, saat di pagi hari aku hanya bisa keluar dan melihat mereka berjalan menuju sekolah dengan teman-temannya. terkadang aku selalu rewel meminta ibu ku ingin sekolah seperti mereka,tetapi ibu ku selau mempunyai jurus saat aku rewel meminta untuk sekolah, dengan mengelus kepala sambil berkata iya dengan senyumannya itu.di saat itu juga aku langsung loncat kegirangan berlari kesana kemari, sampai mencium pipi ibuku dan aku selalu iseng mengatakan hal itu ke dede " de,, kaka mau sekolah,ibu bilang kalau di sekolah itu sangat menyenangkan, nanti kalau kaka sudah sekolah kaka ajarin dede" kata ku , tapi dede hanya diam dan asikmeyentil-nyeti kelerengnya, memang terkadang aku selalu bermain dengan dede salahsatunya bermain kelereng, sekarang dia asik bermain sendiri karna aku membiarkan dia bermain sendiri.
aku, dede, ibu hanya tinggal bertiga, ibu ku bilang ayah ku meninggalkan ibuku saat aku masih bayi, aku yang sudah mengetri, aku kesal memiliki ayah yang seperti itu meningalkan ibu demi kepentingan sendiri, saat ini aku menganggap ayahku sedah meninggal, aku tidak ingin mengingatnya lagi bahkan wajahnyapun aku tidak mengetahuinya. tempat tingal kami bertiga hanyalah gubuk dipinggir semak-semak, yang hanya cukup untuk bertiga, terkadang aku takut saat turun hujan saja gubuk ini selalu kebocoran bahkan kalau disrtai angin kecang saja serasa menari-nari seoalah gubuk ini akan rubuh, aku sangat khawatir jika gubuk ini runtuh entah apa jadinya.
ibuku selalu memeluk kami berdua di saat hujan deras seperti ini, karna dede selalu ketakutan melihat gubuk kami yang bergoyang-goyang, memang gubuk ini dibuat oleh ibuku sendiri dengan mengumpulkan ranting-ranting, kayu bekas dan juga daun kelapa kering yang sudah jatuh kebawah di kebun sebelah jadilah gubuk yang aneh ini namun banyak kebahagian jika aku masih bersama ibuku. padahal ini sudah malam tapi aku dan dede tidak bisa tidur dalam keadaan seperti ini.
" bu ade takut" menarik-narik baju ibu
"ih,, cemenn kamu de, liat kaka nih,, ga takutkan" aku bergaya, meledek dede
"BLAAAARR" *suara petir*
aku sontak langsung memeluk ibuku,karna sura menggelegar itu sangat mengagetkan ku ditambah lagi kilauan-kialauan petir.
"ibu anna takut,,," aku berlindung di belakang ibuku
" haha,, cemen kamu ka ade aja ga takut" ade memeletiku, aku tidak membalas apapun
"hihi,,kamu ga malu an sama dede tuh,,sini sama ibu nanti ibu ceritakan dongeng, seru loh" ajak ibu
"yahh,, dongeng lagi,gambar aja bu dede suka gambar." sambil menggerakan tangannya seolah-olah memegang pensil,
"ah,,paling juga gambarnya itu-itu saja,,gunung,matahari,rumah, sawah,,apalagi ya...." aku berfikir
" burung!" sambar dede
"iya,,gambar mu jelek de,, coba kaka kasih tantangan dede bikin gambar kaya rumah kita,tapi lagi kena angin hujan, bisa ga? nanti kaka kasih. buku gambar baru!!" dedua angan ku ku angkat ke atas
" iya ka mau deh,,tapi janji ya,,ya" serius dede
" memang kamu uang dari mana ka?" tanya ibu
" dari ibulah" aku tertawa,, ibu kutertawa menekan hidungku
"yaudah,,nanti kalo ade bisa ibu beliin deh,,mau dongeng apa kambar nih" tanya ibu
"dongeng aja bu aku lagi malas gambar" balas dede
meskipun di tengah-tengah hujan yang lebat seperti ini ibuku selalu bisa membuat suasana mennjadi riang, takterasa satu jam setengah ibuku berdongeng, kali ini ibu berdongeng monyet yang serakah, aku ade menikmati sekali dongeng itu sampai hujan di luar kami cueki. dede mulai tertidur di samping ibuku, namun tidak dengan ku.
"anna kamu belum tidur,liat dede tidurnya pulas sekali,,mau ibu dongengi lagi" tanya ibu sambil tersenyum
"tidak bu,anna hanya memikirkan,,anna ingin mencari uang saja bu,biarin tidak sekolah, asal dede bisa sekolah" tatapan ku serius ke ibu
" anna,,sini mendekat" aku pun mendekat " besok ibu mau mendaftarkan mu sekolah,,"bisik ibu
"ibu benar!! tapi bu, sekolah itukan mahal"
" insya allah cukup an,,ibu sudah lama menabung hasil jual gorengan ibu,,liat baju mu sudah ibu belikan, tapi
sementara kamu memakai keresek pelastik dulu ya ibu belum bisa membelikannya" ibu ku mengambil baju sekolah.
aku tak percaya ibuku sudah menyiapkan jauh-jauh hari ternyata ucapan ibu waktu itu bukan lah bohong, kali ini aku tidak loncat kegirangan, aku langsung memeluk ibuku dan menciumnya.
*******
aku masih menunggu hujan yang masih belum reda, bahkan bertambah deras, gemuruh-gemuruh hujan turun terdengar begitu keras tanda hujan sangatlah lebat. namun tidak mengurangi indahnya kelap-kelip lampu di kota ini. aku menghelakan nafas panjang sampai kaca ini berembun,aku mengusap dengan tangan ku, di luar jalanan sanangat langgang hanya ada beberapa mobil yang lewan dengan kecepatan tinggi. bakan sekarang banyak motor dipingiir jalan, tubuhku kali ini mulai menggigil karna cuaca semakin malam semakin dingin, meskipun aku didalam kator ku tetap saja dinginya membuat ku menggigil.di saat seperti ini aku rindu sekali pelukan ibu.
aku masih melihat-lihat suasana di luar,pedanggang asongan tadi mulai berlari-lari di panggil oleh banyak yang ingin membeli sesuatu, aku melihat wajah pedagang asongan itu terlihat senang sekali karna hujan ini ia tidak usah repot-repot ketengah jalan menawarkan jualannya.aku jadi ingat, ibuku selalu mengajak ku ber jualn gorengan di sekolah SD ku dulu, saat istirahat aku membantu ibu ku berjualan gorengan.
saat umurku sepuluh tahun ade ku tujuh tahun, aku senang, karna bukann hanya aku yang bersekolah tapi dede juga, saat dede belum sekolah dede selalu ku ajari membaca,menulis bahkan hal yang paliing dede sukai menggambar dia selalu minta di ajari itu, sementara ibuku tak usah repot-repot mengajari dede, terkadang aku kasihan melihat ibu ku, dia berjuang sendiri untuk sekolah kami bahkan sekarang bukan hanya menjual gorengan saja, ibuku sekarang selalu mengumpulkan botol-botol bekas yang bagi ibuku adalah emas yang berserakan di jlan raya, itu ia lakukan setiap sembahyang subuh, aku ingin selali membantunya, tapi ibu selalu melarang ku dia lebih senang jika kami belajar di rumah, kini tubuh ku bertambah tinggi dan terlihat imut itu ibu yang bilang, rambutku kini sudah tidak seperti orang yang belum mandi,perawakan ku dan dede tidak seperti yang dulu, sekarang kami tinggal di kontrakan yang kecil,karna gubuk yang ibu buat telah di gusur dede yang tidak tau apa-apa saat itu hanya menangis karna melihat ku menangis,seperti biasa ibuku sudah mengetahuinya bahwa rumah gubuk kami terancam di gusur tetepi ibuku masih mempunyai uang simpanan. ibuku pun masih menjual gorengannya, aku bersyukur kini gorengan ibuku, banyak yang pesan.
dan satu lagi yang membuatku terkejut aku mendapat besiswa ke malaisia, ketika itu aku enggan meninggali ibuku dan dede tapi ibu selalu menyemangatiku supaya mengambil beasiswa itu, ya aku niatkan itu untuk ibuku dan dede. aku kini berkomunikasi dengan dede katanya dia kalau kangen aku selalu ke warnet.
:" kaka,,enak ya disana,dede mau juga ka kesana" dede di chat
" hehe enak dong de,, makanya belajar yang benar supaya bisa ke sini, ibu kabarnya gimana de?" tanya ku di chat
"siap ka kirimin buku gambar lagi ya ka, aku suka yang buku gambar yang kaka kirimin waktu itu,"balasnya
"iya nanti kaka kirimin lagi,,kaka tanya kabar ibu de gimana?"
"ibu lagi sakit ka"
"eh,,kamu ya de kaenapa ibu di tinggal sendirian sii, pulang sana"
"hehe,,ini ibu kaka anna yang cantik,ibu lagi sama dede,liat dedemu menertawai mu tuh seneng banget"
"ibu bikin kaget saja _ _" "
"belajar yang benar ya ka di sana jangan mikirin ibu di sini, ibu baik-baik saja kan ada dede, jagoan ibu"
" iya,, anna rindu ibu sama dede"
" nati ibu kirim foto ibu sama dede yah,, biar rindumu hilang"
setengah jam aku chat dengan ibuku yang tadi kupikir itu dede,ibuku mengirimkan fotonya bersama dede dengan poseyang ceria sekali membuat rasa khawatir ku menghilang sementara. teman sekamar ku dita di melihat ku menangis, dia segera memberikan ku saputangannya,.
"kenapa kamu ann" tanya dita
" aku rindu ibuku dit, sudah setahun aku tidak melihatnya" aku mengelap air mataku
"sudahlah ann,,aku yakin ibumu baik-baik saja, do'akan saja ann"
" tapi,,"
"sudahlah ann,, besokmasih ada ulangan matematika,, apa kamu mau nilaimu hancur,kalau nilaimu hancur ibumu akan kecewa bukan"balas dita
dita terus menenangkanku supaya tidak terus khawatir seperti ini, aku selalu menuangkan isi hatiku ini kepada dita hanya dialah teman ku,terkadang aku iri padanya karna ia murid paling pintar di kelasku, aku di bawah dita, makanya kami selalu jadi bahan bincangan di kelas, dan lagi banyak sekali anak-anak laki mendekati dita minta di ajarkan ini dan itu tetapi dita selalu menolaknya entah dita memang seperti itu dia hanya terbuka dengan anak cewe salah satu nya aku, jika aku tidak mengerti tentang pelajaran aku selalu bertanya pada dita. di saat kami sedang dikamar dan bercerita macam-macam dengan dita,muncul biangkerok yang merusak suasana kami.
MASIH BERLANJUT ^_^
Sejak kecil tania tinggal dengan ayahnya. Ibunya telah meninggal saat melahirkannya. Ayah tania membesarkan tania layaknya seorang ibu. Meskipun ada keterbatasan fisik, namun dia mengasuh tania dengan penuh kasih sayang. Martin ayah tania,dia bekerja sebagai pengangkut sayuran di pasar. Disaat dia bekerja di pagi hari, martin selalu menitipkan anak satu-satunya yang masih sepuluh bulan itu kepada kaka perempuannya. Sorehari nya,dia menghabiskan waktunya untuk tina.bermain dan bercanda ria di rumah yang sederhana itu yang terbuat dari kayu yang sudah usang kehitam-hitaman. Saat tina sudah tidur,martin selalu keluar menatap langit malam sambil merenung di atas tempat duduk kayu dan sambil berkata dalam hatinya"Ya tuhan apakah aku pantas di sebut ayah oleh anak ku,jika dia sudah besar nanti dan mengetahui ayahnya seperti ini,lalu ia tidak menerima ku sebagai ayahnya. Karna aku seorang tuna wicara*gagu* yang tidak bsa mengajarinya apapun" sambil menggerakan tangannya.
Tak lama tania bangun dan menangis,martinpun bangkit dari duduknya ia segera tidur di sampingnya dan mengelus kepalanya perlahan-lahan dengan halus,tangisan itu mulai hilang.tania tidur dengan nyenyak di pelukan ayahnya.
Enam tahun sudah martin membesarkan tania tanpa seorang istri,martin hanya memikirkan kehidupan tania nati di masa depan ia terus menabung dari hasil kerja keras untuk tania,bahkan martin bisa menyekolahkan tania dengan kerja kerasnya,setiap pagi tania selalu di antar oleh ayahnya sampai depan gerbang.
pagi hari ini tania semangat untuk berangkat ke sekolah,tani berbeda dengan anak yang lain dia tidajk mintan apapun dari ayahnya,bahkan apa yang ayahnya berikan dia terima dengan senang,tapi tania dengan teman-teman nya yang setiap sekolah selalu merangkul tasnya,tania hanya membawa kantong keresek yang di dalam nya hanya satu buku. martin yang sedang mengecek ban sepedanya tania tiba-tiba mengagetkan ayahnya.
"Ayah..nanti mau nunggu tania sekolah kan.melihatku belajar, tania sudah bisa baca loh yah,, " kata tania memegang bahu ayahnya dari belakang yang sedang mengecek sepeda,saat ini tania sudah masuk sekolah dasar.
"Ayah ingin sekali melihat mu belajar na. Tapi ayah harus. Berkerja..maafkan ayah na" martin berbicara dengan bahasa isyarat pada tania sambil menggerakan tangannya dan mengelus rambut tania.tania yang masih kecil ia terlihat bingung ayahnya berbicara apa,tania menggarukan kepalanya.
"ayah aku tidak mengerti" kata tania
martinpun langsung berdiri, mengambil pulpen dan selembar kertas dan menuliskan apa yang telah ia ucapkan tadi,lalu martin memberikannya ke tania,dia besyukur tania sudah bisa membaca tulisannya, tania membacanya dengan mengeja dan masih terbata-bata, namun tania mengerti maksud tulisan itu.
"ayah tidak bisa terus,,teman-teman yang lain selalu di tunggui ibu dan ayahnya,aku hanya ingin ayah melihat ku belajar di kelas" tania mengembungkan pipinya
martin menuliskan lagi kata-katanya di kertas lembar,
"a..yaaaa..hh jaann..jiii meee..lii.hat..mu.bee,lla,,jaar" tania membacanya sambil berfikir. "janji ya yah,," lanjut tania
"eeeennn" martin mengangguk. tania tesenyum lebar sambil mengambil tas.
di pagihari terlihat fajar segera menghapus awan malam,sekitar jam lima martin mulai mengayuh sepedanya di pagi yang dingin ia membiarkan didrinya tidak memakai baju tebal ia mementingkan tania, martin mengayauh sepedanya dengan cepat,desingan angin terdengar di telinga bulu roma martin mulai berdiri karna kedinginan, sesekali motor melewatinya membawa anak-anaknya pergi ke sekolah, martin pun mulai berhenti di jalan yang menanjak tinggi karna sepedanya tidak kuat menanjak, tania yang sudah hafal sekali tanjakan itu mulai turun dari sepeda,mereka berjalan menajak membawa sepedanya,tania berlalri-lari menanjak sampai atas melambaikan tangan dan menggoyangkan tangannya ke arah ayahnya, martin tersenyum melihat tingkahnya.
martin mulaimengayuh sepedanya lagi sampai telihat gerbang sekilah di depannya, satujam akhirnya mereka sampai sekolah,tania pun turun dan pamit di depan gerbang sekolahnya,martin mengecup pipinya,tani tertawa dan masuk dengan semangat.
saat tania masuk kedalam kelas ,tania yang baru masuk tiba-tiba di timpuki kertas oleh teman-teman,tania berlari ke tempat duduknya namun siska menolak duduk disampingnya
"kamu dudukdi belakang saja tania"dia menunjuk ke belakang
"tapikan sis aku ingin duduk dengan mu,," balas tania
"sekarang aku menolak duduk dengan mu"
"kalau besok boleh" tanya tania
" engga bolehh,," jawab siska cuek
" besok,,besoknya lagi boleh" tanya tania
"engga boleh taniaaa!! sudah sana" usir sisika
tania terpaksa duduk paling belakang,entah kenapa sikap siska jadi dingin di pagi hari ini, tani duduk di belakang,bingung dan bertanya-tanya, "apa salah ku pada sisika dan teman-teman yang lain? hari ini benar-benar aneh" gumamnya.
tania membuka bukunya dari dalam tas dan membacanya salah seorang temannya mendekatinya.
"hei,,,anak pintar,tapi tidak di senangi" fino mengagetkan tania
"ya ampun fin kamu mengagetkan ku,," kata tania, fino tertawa puas
"kamu sadar ga tina,, mereka semua bersikap aneh dengan mu, bakan teman sebangku mu juga" fino mulai duduk di samping tania
"ya,, aku hanya heran dengan sisika, dia dingin sekali pada ku hari ini" tania melihat ke tempat duduk tania
"nati kammu juga tau tania kenapa mereka bersikap aneh pada mu,mulai sekarang boleh aku duduk di sini tania?" tanya fino
"silahkan saja fin,kau bebas duduk di mana pun,tetapi jangan mengganggu saat belajar"
fino tesenyum lebar dam mengangguk tanda setuju.
siska menoleh kebelakang melihat tania sedang belajar sambil menunjuk-nunjuk ke arah bukunya.
^_^ MASIH BERLANJUT

Enam tahun sudah martin membesarkan tania tanpa seorang istri,martin hanya memikirkan kehidupan tania nati di masa depan ia terus menabung dari hasil kerja keras untuk tania,bahkan martin bisa menyekolahkan tania dengan kerja kerasnya,setiap pagi tania selalu di antar oleh ayahnya sampai depan gerbang.
pagi hari ini tania semangat untuk berangkat ke sekolah,tani berbeda dengan anak yang lain dia tidajk mintan apapun dari ayahnya,bahkan apa yang ayahnya berikan dia terima dengan senang,tapi tania dengan teman-teman nya yang setiap sekolah selalu merangkul tasnya,tania hanya membawa kantong keresek yang di dalam nya hanya satu buku. martin yang sedang mengecek ban sepedanya tania tiba-tiba mengagetkan ayahnya.
"Ayah..nanti mau nunggu tania sekolah kan.melihatku belajar, tania sudah bisa baca loh yah,, " kata tania memegang bahu ayahnya dari belakang yang sedang mengecek sepeda,saat ini tania sudah masuk sekolah dasar.
"Ayah ingin sekali melihat mu belajar na. Tapi ayah harus. Berkerja..maafkan ayah na" martin berbicara dengan bahasa isyarat pada tania sambil menggerakan tangannya dan mengelus rambut tania.tania yang masih kecil ia terlihat bingung ayahnya berbicara apa,tania menggarukan kepalanya.
"ayah aku tidak mengerti" kata tania
martinpun langsung berdiri, mengambil pulpen dan selembar kertas dan menuliskan apa yang telah ia ucapkan tadi,lalu martin memberikannya ke tania,dia besyukur tania sudah bisa membaca tulisannya, tania membacanya dengan mengeja dan masih terbata-bata, namun tania mengerti maksud tulisan itu.
"ayah tidak bisa terus,,teman-teman yang lain selalu di tunggui ibu dan ayahnya,aku hanya ingin ayah melihat ku belajar di kelas" tania mengembungkan pipinya
martin menuliskan lagi kata-katanya di kertas lembar,
"a..yaaaa..hh jaann..jiii meee..lii.hat..mu.bee,lla,,jaar" tania membacanya sambil berfikir. "janji ya yah,," lanjut tania
"eeeennn" martin mengangguk. tania tesenyum lebar sambil mengambil tas.
di pagihari terlihat fajar segera menghapus awan malam,sekitar jam lima martin mulai mengayuh sepedanya di pagi yang dingin ia membiarkan didrinya tidak memakai baju tebal ia mementingkan tania, martin mengayauh sepedanya dengan cepat,desingan angin terdengar di telinga bulu roma martin mulai berdiri karna kedinginan, sesekali motor melewatinya membawa anak-anaknya pergi ke sekolah, martin pun mulai berhenti di jalan yang menanjak tinggi karna sepedanya tidak kuat menanjak, tania yang sudah hafal sekali tanjakan itu mulai turun dari sepeda,mereka berjalan menajak membawa sepedanya,tania berlalri-lari menanjak sampai atas melambaikan tangan dan menggoyangkan tangannya ke arah ayahnya, martin tersenyum melihat tingkahnya.
martin mulaimengayuh sepedanya lagi sampai telihat gerbang sekilah di depannya, satujam akhirnya mereka sampai sekolah,tania pun turun dan pamit di depan gerbang sekolahnya,martin mengecup pipinya,tani tertawa dan masuk dengan semangat.
saat tania masuk kedalam kelas ,tania yang baru masuk tiba-tiba di timpuki kertas oleh teman-teman,tania berlari ke tempat duduknya namun siska menolak duduk disampingnya
"kamu dudukdi belakang saja tania"dia menunjuk ke belakang
"tapikan sis aku ingin duduk dengan mu,," balas tania
"sekarang aku menolak duduk dengan mu"
"kalau besok boleh" tanya tania
" engga bolehh,," jawab siska cuek
" besok,,besoknya lagi boleh" tanya tania
"engga boleh taniaaa!! sudah sana" usir sisika
tania terpaksa duduk paling belakang,entah kenapa sikap siska jadi dingin di pagi hari ini, tani duduk di belakang,bingung dan bertanya-tanya, "apa salah ku pada sisika dan teman-teman yang lain? hari ini benar-benar aneh" gumamnya.
tania membuka bukunya dari dalam tas dan membacanya salah seorang temannya mendekatinya.
"hei,,,anak pintar,tapi tidak di senangi" fino mengagetkan tania
"ya ampun fin kamu mengagetkan ku,," kata tania, fino tertawa puas
"kamu sadar ga tina,, mereka semua bersikap aneh dengan mu, bakan teman sebangku mu juga" fino mulai duduk di samping tania
"ya,, aku hanya heran dengan sisika, dia dingin sekali pada ku hari ini" tania melihat ke tempat duduk tania
"nati kammu juga tau tania kenapa mereka bersikap aneh pada mu,mulai sekarang boleh aku duduk di sini tania?" tanya fino
"silahkan saja fin,kau bebas duduk di mana pun,tetapi jangan mengganggu saat belajar"
fino tesenyum lebar dam mengangguk tanda setuju.
siska menoleh kebelakang melihat tania sedang belajar sambil menunjuk-nunjuk ke arah bukunya.
^_^ MASIH BERLANJUT
Namaku sofi nama panjangku sofiiiii panjang bukan.aku sekarang duduk
di kelas 2 IPA SMA harapan. Tadi pagi aku di bangunkan ibuku , mukaku di
siram karna aku sudah bangun namun tidur lagi.Karna itu aku berangkat
terburu-buru untungnya aku selalu berangkat bersma ayah naik motor. Motorku
melewati anak-anak sekolah yang berjalan kaki udara pagi yang segar membuat kantukku
hilang.
Seperti pagi-pagi biasanya deni,ryan dan fazran aku lihat jalan bertiga mereka memang selalu jalan bertiga setiap pagi anehnya aku selalu bertemu mereka entah sengaja atau kebetulan. Saat motor ku mlintas hanya ryan yang menyapaku dengan sapaan itu-itu saja setiap hari sambil melambaikan tangan nya "hello sofi selamat pagi..semangat ya"sapa ryan yang bukan teman sekelas ku itu berlangsung setiap hari, tapi ia sering main ke kelasku karna ada deni, namun aku liat deni teman sekelasku yg duduknya paling belakang yang terlihat malas kalau sekolah hanya diam melihat ku tanpa senyum.sudahlah deni memang seperti itu.fazran sedang asik dengan rubiknya dia selalu membawa rubik kalau pergi sekolah.
Hari ini hari senin waktunya murid-murid upacara mereka berhamburan keluar aku di barisan paling belakang karna sudah sedikit telat saat upacara di mulai satu menit kemudian ryan,deni dan fazran berlari tergopoh-gopoh masuk kelas,dan langsung masuk ke barisan paling belakang. Deni menjulurkan lidahnya sambil berhaah aku tertawa kecil melihatnya dia menoleh ke arah ku sontak aku alihkan mukaku ke depan.
Upacara selesai di akhiri dengan salam pak cipto kepala sekolah SMA ini. Murid-murid yang terlihat lelah upacara, langsung lari berhamburan masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Di kelas kami sekarang pelajaran Matematika pak sarip yang mengajarnya sekaligus walikelas kami, sudah tidak asing lagi dengan galaknya, aku mengecek tasku.sontak apa! aku kaget keringat ku mulai bercucuran Mana buku paket matematika ku,aku cari dengan pelan-pelan tapi tidak ada aku tidak percaya ku keluarkan semua buku ku dari dalam tas ke atas meja.tetap tidak ada.aku baruingat Ternyata aku lupa membawanya aku mulai panik karna lima menit lagi kelas dimulai.
langkah kaki dari luar terdengar keras aku mulai ketakutan tapi aku bersyukur ternyata itu bukan pak sarip tapi ryan yang membawa buku paket matematika
kepanikanku mulai behenti tiba-tiba ryan dari kelas 2 IPS ada di
depan pintu kelas ku.
"hello katanya disini ada yang ga bawa buku matematika, ada yang mau minjam?" ryan dengan cengiran khasnya. Aku kaget kanapa tiba-tiba kebetulan seperti ini aku langsung berdiri menghampiri ryan "eng,,aku yan, lupa bawa bukunya,kamu bener mau minjemin?"aku senyum
"pake dulu aja sof nanti jam ke dua tolong balikin
ya,titipin ke deni aja" kata ryan memberikan ku bukunya "ok.makasih
banget yan.aku tidak jadi di hukum deh sama pak sarip"aku tertawa ryan pun
juga ikut tertawa.
aku tidak menyangka ryan sebaik itu aku senyum-senyum sendiri masuk
kelas.
Pelajaranpun di mulai pak sarip memberikan materi-materinya aku melihat ke belakang,aneh deni belum masuk juga .pikirku mungkin dia tidak ikut pelajaran matematika lagi. lima menit pelajaran di mulai deni masuk dengan dengan permisi, namun ia tidak lolos begitu saja "deni dari mana kamu"tanya pak sarip dengan suara tinggi "dari kalas sebelah pak nagih hutang sudah dua bulan belum bayar terus.."henti deni "sudahlah bapa malas mendengarnya cepat duduk" pak sarip memotong, seketika suara gemuruh tawa terdengar di ruangan kelas deni duduk dengan senyum yang menurut ku manis tapi dia terlalu cuek.
Bel berbunyi dengan nada yang setiaphari ku dengar, dan juga tanda pelajaran telah selesai aku menoleh kebelakang tepat ditempat duduk deni "deni den" panggil ku "eh..kenapa sof" dia berjalan ke tempat duduk ku "ini bukunya ryan katanya ryan, nitip ke kamu aja buwat kasih ke dia" ku kasih ke deni "kamu balikin sendiri aja sof aku malas mau tidur dulu" sambil garuk kepala dan kembali ke tempat duduknya. aku kesal mendengar ucapannya itu. Akupun langsung menuju ke kelas ryan.tapi gawat pak sarip sudah masuk di kelas IPS.karna aku tak mau ryan di .Hukum, tanpa pikir panjang aku langsung masuk kedalam dengan permisi aku bersyukur pak sarip tidak curiga. Tapi saat ku kembali ingin keluar pak sapri langsung memanggil ku, suara itu bagiku seperti halilintar yang menyambar ku seketika gerak kakiku langsung terdiam.
"sofi..kamu minjem buku ke ryan?"bertanya
tegas
"i..iya pa" aku menjawap gugup "tadi,
kamu ga bwa bku iya?" ia balik bertanya "i..i..i" jaabku tambah
gugup
" JAWABB!!" ia memukul papan tulis dengan
sepidolnya
"IYA pak" aku menunduk "sekarang
kamu berdiri di tengah lapang sana sambil hormat, karna kamu sudah membohongi
saya" "baik pa"jawab ku lesu sambil berjalan
aku melihat anak-anak IPS menertawaiku dengan
menggembungkan pipinya, tapi tidak dengan ryan, seperti merasa bersalah. pak
sarip berhak menghukumku karana ia wali kelasku.aku berjalan dengan lesu ke
tengah lapang yang terlihat tidak ada bayangan pohon satupun yang melindungiku
dari panas matahari yang menusuk kulitku, di tambahlagi hal yang sangat
memalukan sambil hormat, dan lihat kepala-kepala dari jendela terlihat sedang
mlihatku menunjuk-nunjuk ke arah tengah lapang dan seperti sedang memanggil
teman-temannya serasa tontonan yang menarik untuk bahan gurauannya,baginya itu
adalah tontonan yang langka.
Betapa malunya menjadi tontonan selama satu
setengah jam.
akumenghelakan nafas tetapi Belum sampai lima menit
aku heren tiba-tiba pak sarip menyuruhku masuk kelas, diam sejenak karna heran
siapa yang bisa membujuk guru killer itu lamunanku terhenti saat pak sarip
menruhku masuk lagi, aku amat bersyukur karna itu tidak berlangsung lama. Di
dalam hati apakah ryan yang membujuk pak sarip? gumamku..seketika aku mulai
senyum-senyum sendiri sambil menuju kelas yang di dalamnya teman-temanku yang
terlihat heran.
Karna hari ini ada ekskul peramuka aku pulang agak
sore.jam setengah tiga sore upacara selesai aku senang ayahku mau menjemputku
di sela-sela kesibukannya,dan ayah sangat perhatian selalu bertanya hal-hal
yang membuatku tertawa pantas saja ibuku selalu terlihat riang jika mereka
ngobrol berdua,
cuaca sejak jam tiga sore sudah terlihat mendung
bahkan awan gelap sudah menguasai awan putih ayahku langsung menyalakan motor
dan membawanya dengan terburu-buru takut hujan akan turun tiba-tiba ditambah
lagi ayah ku tidak membawa jas hujan. ayahku terus menambahkan kecepatan laju
motornya ayahku kaget ada penyebrang yang berlari, sontak ayah pun mematahkan
belokannya ke arah kanan, jatuh lah kami berdua syukurnya kami jatoh
direrumputan.
ayahku mengalami luka memar di sikut,dan kakinya
tapi kakiku terhimpit motor, kakiku terkilir dan tidak bisa di gerakan dan
berjalan.akupun di bawa taksi ke rumah, ayahku naik motor.orang yang
menyebrangtadi entah kemana dia hanya menoleh saat kami jatuh.
satu hari aku tidak masuk sekolah.kakiku masih
belum bisa berjalan namun sudah bisa di gerakan.telfon rumah ku berdering aku
mencoba ingin mengangkatnya tetapiayahku sudah berlari untuk mengangkatnya.aku
melihat ayah mengagguk. Selesai ayah bertelfon, ternyata pak sarip yang
menelfon. aku lupa mengabarinya, syukurnya Ayah sudah memberitahukan semua
kejadiannya ke pak sarip aku mulai tenang. Sorehari sekitar jam setengah empat.
aku kedatangan tamu aku berfikir itu sisika karna hanya dia yang kukabari kalau
aku kecelakaan.tapi ibuku yang menyambutnya.bola mataku kelar sambil menganga
akutak percaya ternyata bukan sisika ku ternyata nenek parubaya yang datang dan
aku tidak mengenalnya. ibuku menghampiriku sambil berbisik ketelinga ku.
"sof kamu memanggil tukang pijit" kata
ibuku heran "tukang pijit? Engga mah.ayah kali" aku bingung
belum sempat ibu berbisik kepada ku lagi nenek itu masuk
kedalam mendekati kami berdua.
"eneng yg namanya sobri" tanya nene
dengan senyum yang giginya masih terlihat rapih "sofi ne . ." betulku
"ko nene tau nama ku dari siapa? di suruh siapa?" tanyaku penasaran
"iya sofi lupa nene,,di suruh anak muda, ganteng neng" senyum
nene"oia,,ini surat dari dia, katanya suruh di kasih neng sobri"
menjulurkan tangan nya "sofi nek"aku tertawa.
ne ijah sangat asik di ajak ngobrol ada saja
ceritanya, dia juga selalu bercerita masa mudanya, aku tertawa tebahak-bahak
mendengar ne ijah saat mudanya pernah jadi jagoan di kelas saat muda, bahkan ne
ijah tak segan bercerita tentang keluatganya,aku kasian mendengarya. bagaimana
tidak mempunyai anak dua dan ne hanya ne ijah yang mencari nafkah untuk makan
mereka berdua karna suaminya sudah mendahuluinya pegi karna penyakit
struk.akusenah bahkan sampai lupa sakit kakiku kini aku mulai bisa berjalan
mesikipun sedikit sakit.
selesai ne ijah memijat ibu memberikan uang namun
ne ijah menolak katanya sudah di bayar, tapi ibu tetap memaksa supaya ne ijah
menerimanya untuk anak-anaknya, ibu juga memberikan bingkisan. ne ijah pamit
dengan senang, katanya dia juga janji kapan-kapan ingin main lagi. di depan
pintu aku menoleh ke kanan dan ke kiri aku mencari dia namun tidak ada
siapapun, aku menghelakan nafas dalam dan bergumam aku heran siapa yang
memberikan hal seperti itu, bukan kebetulan pastinya. aku memutar badan ku
kedalam rumah.puncak penasaran ku mulai turun.aku teringat Karna tadi ke asikan
mengobrol aku lupa membuka surat nya.aku buka aku kaget tapi senang membaca
surat ini "bagaimana enak bukan pijatan sensasi nek ijah :D . Semoga kamu
senang dan cepat masuk sekolah. aku hanya ingin mengetahui ke adaan mu saja.
Cepat sembuh aku rindu senyum mu. aku bayangan mu yang selalu mengikuti
mu" aku memeluk surat ini begitu pedulinya ia aku tambah penasaran siapa
dia apakah dia teman sekelas ku fajran tetapi tidak mungkin dia selalu sibuk
dengan dunianya sendiri atau jangan-jangan deni sudahlah dia hanya orang yang
menyebalkan.
Tidak sampai tiga hari aku mulai masuk sekolah
lagi.di kelasku hanya ada beberapa anak cewe, sisika yang sudah duduk melihatku
dan menghampiriku menuntunku untuk duduk, aku melihat ke belakang ada
ryan,fazran dan deni yang sedang asik ngobrol. ryan seperti biasa dia menypaku di
jalan saat ku berangkat , tapikaliini dia mendekatiku dan bertanya ke adaan
ku,entah ia tau dari siapa, ryan juga menyemangatiku. tetapitdak dengan deni
dia masi asik mengobrol dengan fazran. karna bel sudah berbunyi ryan pun pergi
masuk ke kelasnya,aku mulai tersenyum-senyum sendiri lagi.
aku memasukan tasku kedalam loker meja, aku heran
mlihat di bawah loker ada selembar kertas aku pikir itu sampah,tapi saat aku
buka bertuliskan "selamat datang ke sekolah.ternyata pijatan ne ijah ampuh
ya :D." di dalam hati aku sangat senang, aku langsung menoleh ke belakang
dia langsung menidurkan kepalanya ke mejanya. aku sempat berfikir apakah ini
ulahnya dia. penasaranku hilang sementara,karna pak komar guru bahasa indonesia
mengajar di kelas kami.
Dari mulai kejadian buku paket matematika ,sampai
tidak jadi dihukum dan yang sangat membuatku senang bahkan itu tikak akan
kulupakan sampai kapanpun itu adalah momen yang langka, dia mengirimkan nek
ijah ke rumahku sampai sekarang ne ijah masih sering main ke rumahku, aku
senang dia sudah menjadi langganan ibuku. Kejadian-kejadian yang membuat ku
senang terus terulang, ketika aku ke kantin dengan temanku.semua makanan ku dan
teman-teman ku sudah di bayar. Dan lagi saat hari ulang tahunku itu, kejutan
yang benar-benar konyol,jika aku mengingat hal itu pasti aku selalu tertawa
sendiri. bagai mana tidak, tukang koran langganan ayahku mengantarkan kado
untukku isi nya novel yang ingin ku beli dan lebih gilanya lagi,sudah di
tanda tangani oleh pengarangnya.aku mulai sangat penasaran dengan dia.
sekarang aku dekat dengan ryan. karna dialah yang
baik padaku meskipun kelasnya berbeda, batin ku juga bebicara dialah orangnya
yang selalu memberikan kejutan yang membuat hidupku menyenangkan entah itu
benar atau bukan tapi aku membuka hati untuk ryan.sampai kelulusanpun aku dekat
dengan ryan tapi aku urung menanyakannya karna aku senang dengan cara seperti
ini.tapi di hari ini pula ryan menembak ku entah maksudnya apa dengan di temani
deni.katanya sebagai saksi aku yang sudah bisa membuka hatiku untuk ryan aku
pun menerimanya.deni terlihat aneh saat itu.syukurnya Kami semua pun lulus.
Sudah satu bulan aku berpacaran dengan
ryan,akhir-akhir ini aku mulai bingung kenapa semua hal-hal yang membuatku
tersenyum seperti telah hilang. Akupun mulai jujur pada ryan saat kami duduk
bersama di taman " yan aku mau bertanya sesuatu,waktu kita masih Kelas dua
SMA, saat kamu meminjamkan aku buku itu kepada ku dan menggagalkan hukuman ku,
apa itu kau yang melakukannya?" tanya ku pada ryan "sebenarnya itu
ulah deni, ketika aku sedang di dalam kelas tiba-tiba deni masuk kedalam kelas
ku, memintaku untuk meminjamkan buku ku ke kamu." serius ryan "apa!
Jangan-jangan" kaget ku "iya sof, dia tiba-tiba nekat masuk ke
kelasku,bilang kalau dia yang tidak bawa buku,dia minjam ke aku katanya, lalu
dia menyuruh mu untuk mengembalikannya ke aku. dan pak sarip
menghukumnya,membersihkan toilet guru dan murid.aku kasian padanya. itu semua
agar kamu tdak di hukum sof" ryan menatap ku
"jadi
deni selama ini yang melakukannya" aku terkejut "iya..dia itu
sebenarnya, suka sama kamu sof.entah dia urung mendekati mu,dia yang bilang
sendiri ke aku.deni memang terlihat malas tapi dia baik sangat baik.bahkan dia
merelakan mu untuk aku.kalaukau ingin bersama deni, Sekarang aku rela melepas
mu untuk deni.karna dia yang pantas untuk mu sof. deni ingin kuliah di jepang.
besok dia berangkat.jika kau ingin bersamanya susul lah" ryan mengusap air
mataku karna aku tak menyangka orang yang selama ini ku acuhkan selalu ada di
belakang ku.
keesokan harinya Aku yang di beritahu ryan,
langsung berangkat ke bandara pagi-pagi. saat deni ingin masuk badara deni
terkejut, melihat ku di sedang duduk. "hei sof.. aku sangat terkejut
melihat mu di sini" deni berhenti melangkah entah tiba-tiba aku langsung
ingin memeluk deni " aku lebih terkejut den, mendapatkan semua hal-hal
yang membuatku tesenyum. Aku sangat senang hari-hari ku terasa berwarna. Apa
kamu mau berjanji? "aku menangis "janji untuk apa" deni mengelap
air mataku "janji akan kembali lagi"aku melepas pelukan ku " aku
janji akan kembali" deni tersenyum dan memeluk ku kembali.
Langkah kaki nya perlahan masuk ke dalam,tubuhnya menghilang saat
iya masuk ruangan.namaun ketka aku ingin kembali pulang seorang anak kecil
berlari tergopoh-membawa selembar kertas. "kaka..kaka" berlari
langkah ku berhenti melihat anak kecil itu berlari menuju ke arah ku. "ini
ka..kata om tadi ini kertas kaka yg jatuh" aku tertawa siapa lagi kalau
bukan dia.aku langsung membuka surat nya "lucu bukan anak kecil tadi aku
membohonginya supaya dia kasih kertas ini ke kamu. Aku janji akan kembali lagi
daaan..menikahimu.sebenarnya aku sudah tau dari ryan kau mau dateng ke bandara
makanya
aku iseng beli matrai ini, jika kau tanda kita resmi pacaran namun kau
harus menungguk. jika tidak aku akan kerumah mu meminta izin menikahimu secara
jantan hehe.. aku tidak main-main sof ! salam aku bayangan yang selalu
mengikutimu kini mulai nampak di mata mu" air mata ku membasahi surat ini,
aku sangat bahagia hari ini, lagi- lagi ia selalu membat ku seperti ini, aku
berjanji akan menjaga hati ini untuk mu.
TAMAT
By:Ahmad Baidhowie